4 Tahap Penelitian Sejarah

4 Tahap Penelitian Sejarah – Ilmu sejarah sama seperti ilmu-ilmu lainnya. mempunyai unsur yang merupakan alat untuk mengorganisasi seluruh tubuh pengetahuan dan strukturisasi pikiran, yaitu melalui metode penelitian sejarah. Metode ini berkaitan dengan masalah “Bagaimana orang memperoleh pengetahuan”. Bentuk penelitian sejarah pada umumnya terkait dengan metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu dengan metode kepustakaan (dokumenter) dan metode wawancara. Kedua metode tersebut dapat berdiri sendiri-sendiri namun juga dapat digunakan kedua-duanya secara bersama-sama untuk saling melengkapi.

Dalam penelitian sejarah, selain masalah metodologi juga dapat dipengaruhi oleh pendekatan (aproace), misalnya pendekatan sosiologi, pendekatan antropologi, pendekatan politik, pendekatan eknomi, dan lain sebagainya.

Penelitian sejarah

Langkah pertama dalam penelitian sejarah bersifat umum, dalam arti berlaku juga untuk semua jenis penelitian, yaitu menentukan topik atau judul. Topik atau judul dipilih berdasarkan dua pertimbagan, Kedekatan emosional dan kemampuan intelektual. Hal ini sangat penting karena keberhasilan penelitian sangat tergantung perasaan senang terhadap topik yang diteliti dan kemampuan akademik peneliti. langkah berikutnya terdiri atas empat tahap yang bersifat spesifik, artinya berlaku khusus untuk penelitian sejarah. empat tahap tersebut adalah heuristik, perifikasi, intrpretasi, dan historiografi.

1. HEURISTIK
Pengeritan heuristik adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relefan dengan topik atau judul penelitian. Menurut sifatnya ada dua macam sumber yaitu sumber primer dan sumber sekkunder. Sumber primer adalah sumber yang berasal dari pelaku atau saksi peristiwa sejarah. misalnya, notulen rapat, AD ART suatu organisasi, auto biografi, dan buku yang di tulis oleh pelaku sejarah.

Sedangakan sumber sekunder adalah yang bukan merupakan sumber primer. Contoh buku pahlawan Diponegoro berjuang (Karya Sagimun).

2. VERIFIKASI
Verifikasi adalah penelitian terhadap sumber-sumber. penelitian meliputi dua aspek (ekteren dan interen). Aspek eksteren mempersoalkan apakan sumber itu merupakan sumber sejati yang diperlukan, sedangkan aspek interen mempersoalakan apakan sumber itu dapat memberi informasi yang diperlukan. Dalam menilai sumber, kedua aspek ini dilakukan bersama-sama.

Kritik eksteren harus dapat menjawab tiga pertanyaan, yaitu sebagai berikut:

  1.  Apakah sumber itu merupakan sumber yang dikehendaki (soal autentisitas)
  2. Apakah sumber itu asli atau turunan (soal orisinalitas)
  3. Apakah sumber itu masih utuh atau sudah di ubah-ubah (soal integritas)

Setelah ada kepastian bahwa sumber itu merupakan sumber yang benar-benar diperlukan dalam bentuk asli dan masih utuh barulah dilakukan kritik interen. Kritik interen dilakukan untuk membuktikan bahwa informasi yang terkandung di dalam sumber itu memang dapat dipercaya. Untuk dapat membuktikannya dilakukan dengan penilaian interinsik terhadap sumber dan dengan membandingkan kesaksian-kesaksian berbagai sumber.

Langkah pertama dalam penelitian intrinsik adalah menentukan sifat suber itu, apakah resmi (formal) atau tidak resmi (informal). Dalam penelitian sejarah, sumber tidak resmi diniai lebih berharga dari pada sumber resmi. mengapa demikian?. Hal ini disebabkan sumber tidak resmi dimaksudkan untuk dibaca orang banyak (hanya untuk kalangan terbatas) sehingga isinya lebih bersifat apa danya, terus terang, dan tidak banyak dirahasiakan dan disembunyikan , jadi bersifat lebih objektif.

Langkah kedua dalam penilaian interinsik adalah menyoroti pengarang sumber tersebut, sebab dialah yang memberikan informasi yang dibutuhkan. Harus diperhatikan bahwa kesaksiannya dapat dipercaya. Untuk itu ada dua pertanyaan yang perlu diajukan, antara lain sebagai berikut:

  1. Apakah dia mampu dan mau memberikan kesaksian yang benar. Pertanyaan pertama mengacu pada kemampuan berdasarkan kehadiranya dalam peristiwa, keahlianya, serta ingatanya yang masih kuat (belum pikun).
  2. Sedangkan pertanyaan kedua terkait dengan apakah ia mempunyai alasan untuk menutupi (merahasiakan) sesuatu peristiwa atau sebaliknya melebih-lebihkan karena ia berkepentingan di dalamnya.

Proses selanjutnya dari kritik intern adalah membandingkan kesaksian dari berbagai sumber dengan menjajarkan kesaksian para saksi yang tidak berhubungan satu dengan yang lain(independet witness). Dengan demikian, di harapkan informasi yang di peroleh benar-benar objektif.

3. INTERPRETASI
Setelah kritik selesai, langkah berikutnya adalah melakukan interptetasi atau penafsiran, baik analisis maupun sintesis, terhadap data yang di peroleh dari berbagai sumber. Berdasarkan data yang telah di kritik, kita mulai menghimpun banyak sekali informasi mengenai topik yang sedang di teliti. Berdasarkan dara itu disusunlah fakta-fakta sejarah yang telah di buktikan kebenaranya dengan bukti yang cukup. Berbagai fakta yang lepas satu sama lainya di susun dan dihubungkan sehingga menjadi kesatuan yang masuk akal. Peristiwa yang sama dimasukan kedalam keseluruhan konteks peristiwa-peristiwa. Selanjutnya kita mulai menafsirkan fakta-fakta itu dan menysunya menjadi kisah sejarah.

Perlu di ketahui bahwa data dan fakta kadang-kadang hanya memiliki perbedaan bertingkat, bukan perbedaan kateforis. Seperti pekerjaan detektif, kalau yang di cari sebab pembunuhan dan bukan ada tidaknya pembunuhan maka data tentang pisau berdarah sudah sangat dekat dengan fakta. Demikian juga bagi seorang sejarawan (ahli sejarah), kalau orang yang di cari adalah adanya rapat dan bukan revolusi maka data berupa notulen rapat sudah sangat dekat dengan fakta.

Proses interpretasi dan penyusun fakta-fakta bersifat selektif karena tidak tidak meungkin semua fakta di masukan kedalam ceita. yang di pilih adalah fakta-fakta yang relevan dengan topik penelitian. Itulah sebabnya, dalam tahap interpretasi dan seleksi timbul subjektifitas sejarah. Proses seleksi sangat tergantung kepada pribadi sipeneliti. tahap interpretasi dan seleksi merupakan tahap yang paling rawan bagi timbulnya bias dalam cerita sejarah dan disinilah integritas seorang peneliti sejarah di pertaruhkan. Itulah sebabnya dalam sejarah tidak berlaku rumus 2 x 2 = 4, dalam arti sumber dan data yang di gunakan itu sama namun dapat (dan senantiasa) menghasilkan kisah yang berbeda apabila digunakan oleh dua orang peneliti.

4. HISTOGRAFI
Histografi atau penulisan sejarah merupakan tahap tekhir dari kegiatan penelitian sejarah. Sesudah menentukan judul, mengumpulkan bahan-bajan/sumber-sumber, serta melakukan kritik dan seleksi, tibalah saatnya kita bekerja menuliskan kisah sejarah. Menulis kisah sejarah bukanlah sekedar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil penelitian, melainkan juga menyampaikan pendirian, pikiran, dan emosi kita melalui interpretasi sejarah berdasarkan fakta-fakta hasil penelitian kita. Oleh karena itu, untuk menulis sejarah diperlukan kecakapan/kemahiran.

Baca Juga artikel sejarah Lainya :

Pengertian Periodisasi Dan Kronologi Dalam Sejarah


Pengertian Sejarah
Contoh Peninggalan Zaman Perunggu
Jenis-Jenis Manusia Purba dan Ciri-Cirinya

Incoming search terms:

  • tahapan penelitian sejarah
  • tahap penelitian sejarah
  • tahap tahap penelitian sejarah
  • tahapan dalam penelitian sejarah
  • 4 tahap penelitian sejarah
  • tahapan kegiatan penelitian sejarah
  • tahap-tahap penelitian sejarah
  • 4 tahapan penelitian sejarah
  • 3 tahapan dalam penelitian sejarah
  • sebutkan dan jelaskan 3 tahapan dalam penelitian sejarah
4 Tahap Penelitian Sejarah | yasri | 4.5