Masa Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Masa Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan – Hallo sobat genggaminternet.com kali ini kita bertemu kembali dengan postingan yang membahas materi sejarah, di kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai Jejak-Jejak Kehidupan Manusia Pada Zaman Prasejarah, Khususnya saya ajan membahas mengenai Masa Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan. Nah gmana sih penejelasanya.? tentu sobat akan bertanya-tanya, ada baiknya jika kita langsung saja ke pembahasan utamanya di bawah ini :

a. Masa Hidup Berburu Tingkat Sederhana (Tradisi Paleolitik)
Kehidupan manusia prasejarah masa itu masih bergantung pada alam. Hidupnya berkelompok antara 20-50 Orang dan masih berpindah-pindah tempat(nomanden). Mereka tinggal di padang Rumput dan dekat dengan sumber air (Sungai, Danau, Laut, dan Sebagainya). Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan sudah mulai tampak. Golongan laki-laki melakukan pekerjaan kasar, seperti berburu binatang, sedangkan kelompok wanita tinggal dirumah mengasuh anak-anaknya dan meramu tumbuh-tumbuhan untuk menjadi bahan makanan. Alat kehidupan mereka di buat dari batu dan tulang yang bentuknya masih sangat sederhana. Bahkan kadang-kadang alat tersebut langsung digunakan tanpa melalui proses pembuatan.

Perhiasan Perunggu

Alat-alat batu yang dihasilkan di Indonesia adalah Kapak perimbas, Yakni sejenis kapak yang digenggam dan berbentuk masif serta pada umumnya pembutnya masih kasar. Kapak perimbas ini banyak ditemukan di daerah Sumatera (Tambangsawah, Lahat, Kalianda), Jawa (Gombong, Jampang Kulon, Pacitan), Kalimantan Timur (Awangbangkal), Sulawesi selatan (cabbenge), Bali(sembiran, Trunyan), Flores (Wangka, Meumere), dan Timor(Atambua, Kefanmanu). Tradisi kapak perimbas yang ditemukan didaerah Punung Jawa Timur terkenal dengan nama Budaya Pacitan.

Alat-alat lain yang dihasilkan pada masa berburu tingkat sederhana, antara lain alat-alat serpih dan alat-alat tulang dari tanduk. Tradisi alat serpih menghasilkan perkakas-perkakas yang dibuat dari serpihan batu dan berbentuk sederhana dengan memperlihatkan kerucut pukul yang jelas, bahkan kasar. Umumnya, yang digunakan adalah beberapa jenis bantuan tufa dan kapur kersikan serta bantuan endapan. Tempat-tempat penting di Indonesia yang mengandung alat-alat serpih dalam jumlah yang lebih menonjol ialah di jawa(Punung, Sangiran, Ngandong), Sulawesi Selatan(Cabbenge) dan Flores (Mengeruda). Alat-alat tulang sementara ini hanya ditemukan di Ngandong. Alat-alat tulang tersebut berupa sudip dan mata tombak bergerigi, Tanduk rusa yang diruncingkan dan dari ikan pari yang digunakan sebagai mata tombak. Dalam kehidupan masa berburu tingkat sederhana belum memperlihatkan adanya suatu bentuk kepercayaan (Religi).

Jenis manusia pendukung pada masa ini adalah manusia jenis Pithecanthropus yang sisanya ditemukan di Kedungbrubus, Mojokerto, Trinil, Sangiran, Sambungmacan dan Ngandong serta manusia wajak.

b.Masa Hidup Berburu Tingkat Lanjut (Tradisi Epipaleolitik)
Cara hidup manusia pada masa itu belum banyak berubah dan masih dipengaruhi cara-cara hidup sebelumnya. Mereka mulai bertempat tinggal didalam gua-gua atau bukit-bukit kerang ditepi pantai yang tidak jauh dari sumber air dan padang rumput atau hutan-hutan kecil tempat mereka berburu. Mereka mulai mengenal seni lukis di tebing dan dinding-dinding gua serta percaya kepada kekuatan-kekuatan yang ada di sekelilingnya. Beberapa lukisan-lukisan di gua-gua telah ditemukan di sulawesi selatan, Pulau seram, Kei, dan Papua. Selain itu, terdapat pula bukti-bukti lain tentang kepercayaan orang pada masa itu dengan diketemukanya penguburan Jenazah di Gua Lawa (sampung), gua sodong dan bukit kerang di sulawesi Utara. pada masa berburu tingkat lanjut alat-alat berupa Serpih bilah, Yaitu alat-alat batu yang dibuat melalui teknik pengerjaan yang rumit, seperti alat-alat mikrolit berbentuk kecil dan berciri khas geometris. Tradisi serpih bilah ditemukan di Gua-gua daerah sulawesi selatan(Gua Cokondo, Uleleba, Balisao, Maros dan sebagainya), Jawa(Gua sampung) dan Kepulauan Nusa Tenggara Timur (Flores, Roti dan Timur). Tradisi serpih yang sangat menonjol di sulawesi selatan terkenal dengan sebutan Kebudayaan Toala.

zaman perunggu

Alat lain yang dihasilkan pada masa berburu tingkat lanjut adalah alat-alat tulang dan kapak genggam. Alat tulang diteukan didaerah Sampung(Gua Lawa), Besuki(Gua Perpuruh, Sondang, dan Gua Marjan), dan di Bali (Gua karang Boma I dan II, Pecatu, Badung). Alat-alat tulang tersebut berbentuk lancipan dari tanduk rusa, sudip tulang, dan mata panah. Tradisi alat tulang yang sangat menonjol pada masa itu ditemukan didaerah sampung dan terkenal sebagai kebudayaan sampung (Sampung Bone-Culture).

Bukti lain dari hasil teknologi pada masa berburu tingkat lanjut adalah kapak genggam yang banyak ditemukan didaerah Sumatera Utara, sehingga dikenal dengan sebutan kapak Genggam Sumatera. Kapak tersebut berbentuk lonjong, bulat dan runcing yang dipangkas seecara monofasial dan sebagian ada pula yang melalui pemangkasan secara bifasial. Kapak tersebut ditemukan dalam bukit-bukit kerang, tetapi juga di temukan di gua Marjan, Besuki. Sebagai pendukung kebudayaan ini manusia jenis Austromelanesoid dan Mongoloid.

Baca Juga Artikel Lainya :

Incoming search terms:

  • Perkakas batu yang ditemukan pada masa hidup berburu tingkat sederhana banyak ditemukan di
  • perkakas batu yang ditemukan pada masa hidup berburu
  • fungsi tanduk rusa pada masa berburu dan mengumpulkan makanan
  • perkakas batu yang di temukan pada masa hidup berburu tingkat sederhana banyak ditemukan di
  • perkakas batu yang ditemukan pada masa berburu tingkat sederhana banyak ditemukan di
  • perkakas batu yang di temukan pada masa hidup berburu tingkat sedrhana banyak ditemukan di
  • perkakas batu yang di temukan pada masa hidup berburu tingkat sederhana banyak di temukan di
  • pendukung cara hidup berburu dan mengumpulkan makanan adalah
  • masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan
  • perkakas batu yg ditemukan pada masa hidup berburu tingkat sederhana bnyak ditemukan di?
Masa Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan | yasri | 4.5